Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Mbak Juliana kira-kira baru 2 minggu kerja menjadi atasanku menjadi Accounting Manager. Menjadi atasan baru, dia seringkali memanggilku ke ruangan kerjanya untuk menerangkan overbudget yang berlangsung pada bulan awalnya, atau untuk menerangkan laporan mingguan yang kubuat. Saya sendiri telah termasuk juga staf senior. Tetapi mungkin sebab latar belakang pendidikanku kurang memberi dukungan, management akan memutuskan mengambilnya. Dia datang dari satu perusahaan konsultan keuangan.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Usianya kutaksir seputar 25 sampai 30 tahun. Menjadi atasan, awalnya kupanggil “Bu”, walaupun usiaku sendiri 10 tahun di atasnya. Tetapi atas permintaanya sendiri, satu minggu waktu lalu, dia menjelaskan lebih senang jika di panggil “Mbak”. Mulai sejak itu mulai terbina situasi serta jalinan kerja yang hangat, tidaklah terlalu resmi. Khususnya sebab sikapnya yang ramah. Dia seringkali langsung menyebutkan namaku, kadang-kadang jika tengah bersama dengan rekanan kerja yang lain, dia menyebutkan “Pak”.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Serta tanpa ada kusadari juga, diam-diam saya rasakan kerasan serta nyaman jika melihat mukanya yang cantik serta lembut menarik. Dia memang menarik sebab sepasang bola matanya setiap saat bisa bernar-binar, atau memandang dengan tajam. Tetapi dibalik itu semua, nyatanya dia senang mendikte. Mungkin sebab sudah menempati jabatan yang cukuplah tinggi dalam umur yang relatif muda, keyakinan dianya juga cukuplah tinggi untuk memerintah seorang melakukan apa yang diharapkannya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Mbak Juliana tetap kenakan pakaian resmi. Dia tetap kenakan blus serta rok hitam yang cukup menggantung dikit diatas lutut. Jika tengah ada di ruangan kerjanya, diam-diam saya juga seringkali melihat lekukan pinggulnya saat dia bangun ambil file dari rack folder di belakangnya. Walaupun sisi bawah roknya lebar, tapi saya bisa lihat pinggul yang samar-samar tercetak dari baliknya. Begitu menarik, tidak besar tapi jelas memiliki bentuk membongkah, memaksa mata lelaki menerawang untuk mereka-reka keindahannya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Di ruangan kerjanya yang besar, persis di samping meja kerjanya, ada seperangkat sofa yang seringkali dipergunakannya terima tamu-tamu perusahaan. Menjadi Accounting Manager, pasti tetap ada pembicaraan-pembicaraan ‘privacy’ yang bertambah nyaman dikerjakan di ruangan kerjanya dibanding di ruangan rapat.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya rasakan mujur jika di panggil Mbak Juliana untuk mengulas kontan flow keuangan di kursi sofa itu. Saya tetap duduk persis di depannya. Apabila kami ikut serta dalam perbincangan yang cukuplah serius, dia tidak mengerti roknya yang cukup terungkap. Di situlah keberuntunganku. Saya bisa melirik beberapa kulit paha yang berwarna gading. Terkadang lututnya cukup dikit terbuka hingga saya berupaya untuk melihat ujung pahanya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Tetapi mataku tetap terbentur dalam kegelapan. Misal saja roknya terungkap tambah tinggi serta ke-2 lututnya lebih terbuka, pasti bisa kupastikan apa bulu-bulu halus yang tumbuh di lengannya tumbuh di selama paha sampai ke pangkalnya. Jika ke-2 lututnya rapat kembali, lirikanku beralih ke betisnya. Betis yang indah serta bersih. Tertangani. Saat saya terbuai memandang kakinya, tidak diduga saya dikagetkan oleh pertanyaan Mbak Juliana..

“Susanto, saya rasakan jika kau seringkali melirik mengarah betisku. Apa dugaanku salah?” Saya terdiam sesaat sekalian tersenyum untuk sembunyikan jantungku yang tidak diduga berdebar.

“Susanto, apakah salah dugaanku?”

“Hmm.., ya, benar Mbak,” jawabku akui, jujur. Mbak Juliana tersenyum sekalian memandang mataku.

“Mengapa?”

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya membisu. Sangat terasa berat menjawab pertanyaan simpel itu. Tetapi saat menengadah memandang mukanya, kulihat bola matanya berbinar-binar menanti jawabanku.

“Saya senang kaki Mbak. Senang betis Mbak. Indah. Serta..,” sesudah menarik nafas panjang, kukatakan fakta sebetulnya.

“Saya seringkali menduga-duga, apa kaki Mbak ditumbuhi bulu-bulu.”

“Persis seperti yang kuduga, kau tentu berkata jujur, apa yang ada,” kata Mbak Tia sekalian dikit menggerakkan kursi rodanya.

“Agar kau tidak ingin tahu menduga-duga, bagaimana jika kuberi peluang mengeceknya sendiri?”

“Sebuah kehormatan besar untukku,” jawabku sekalian membungkukan kepala, menyengaja dikit bercanda untuk mencairkan perbincangan yang kaku itu.

“Kompensasinya apa?”

“Sebagai perasaan hormat serta sinyal terima kasih, akan kuberikan satu ciuman.”

“Bagus, saya senang. Sisi manakah yang akan kau cium?”

“Betis yang indah itu!”

“Hanya satu ciuman?”

“Seribu kali juga saya bersedia.”

Mbak Tia tersenyum manis dikulum. Dia berupaya manahan tawanya.

“Dan saya yang memastikan dibagian manakah saja yang perlu kau cium, OK?”

“Deal, my lady!”

“I like it!” kata Mbak Juliana sekalian bangun dari sofa.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Dia mengambil langkah ke mejanya lantas menarik kursinya sampai ke luar dari kolong mejanya yang besar. Sesudah menghempaskan pinggulnya diatas kursi kursi kerjanya yang besar serta empuk itu, Mbak Juliana tersenyum. Matanya berbinar-binar seakan menaburkan sejuta pesona birahi. Pesona yang memerlukan sanjungan serta idola.

“Periksalah, Susanto. Berlutut di depanku!” Saya membisu. Terpana dengar perintahnya.

“Kau tidak mau mengeceknya, Susanto?” bertanya Mbak Juliana sekalian dikit merenggangkan ke-2 lututnya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Sesaat, saya berupaya menurunkan debar-debar jantungku. Saya tidak pernah diperintah semacam itu. Ditambah lagi diperintah untuk berlutut oleh seseorang wanita. Bibir Mbak Juliana masih tersenyum saat dia lebih merenggangkan ke-2 lututnya.

“Susanto, kau tahu warna apa yang tersembunyi di pangkal pahaku?” Saya menggeleng lemah, seakan ada kemampuan yang tidak diduga merebut sendi-sendi di sekujur tubuhku.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Tatapanku terpaku ke keremangan diantara sela lutut Mbak Juliana yang meregang. Pada akhirnya saya bangun menghampirinya, serta berlutut di depannya. Samping lututku menyentuh karpet. Wajahku menengadah. Mbak Tia masih tetap tersenyum. Telapak tangannya menyeka pipiku seringkali, lantas beralih ke rambutku, serta dikit mendesak kepalaku supaya menunduk mengarah kakinya.

“Ingin tahu warnanya?” Saya mengangguk tidak berkapasitas.

“Kunci dahulu pintu itu,” tuturnya sekalian menunjuk pintu ruangan kerjanya. Serta dengan taat saya melakukan perintahnya, lalu berlutut kembali di depannya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Mbak Juliana menopangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya. Gerakannya lamban seperti bermalas-malasan. Saat itu saya mendapatkan peluang melihat sampai ke pangkal pahanya. Serta kesempatan ini tatapanku terbentur pada secarik kain tipis berwarna putih. Tentu dia menggunakan G-String, kataku dalam hati.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Sebelum paha kanannya betul-betul tertopang diatas paha kirinya, saya masih tetap sudah sempat lihat bulu-bulu ikal yang menyembul dari bagian-bagian celana dalamnya. Segitiga tipis yang cuma selebar kurang lebih dua jari itu begitu kecil untuk sembunyikan semua bulu yang mengelilingi pangkal pahanya. Bahkan juga sudah sempat kulirik bayangan lipatan bibir dibalik segitiga tipis itu.

“Suka?” Saya mengangguk sekalian mengusung kaki kiri Mbak Juliana ke atas lututku.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Ujung hak sepatunya berasa cukup menyerang. Kulepaskan klip tali sepatunya. Lantas saya menengadah. Sekalian melepas sepatu itu. Mbak Tia mengangguk. Tidak ada komentar penolakan. Saya menunduk kembali. Mengelus-elus pergelangan kakinya. Kakinya mulus tanpa ada cacat.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Nyatanya betisnya yang berwarna gading itu mulus tanpa ada bulu halus. Tetapi dibagian atas lutut kulihat dikit ditumbuhi bulu-bulu halus yang cukup kehitaman. Begitu kontras dengan warna kulitnya. Saya terpana. Mungkinkah dari mulai atas lutut sampai.., sampai.. Aah, saya hembuskan nafas. Rongga dadaku mulai berasa sesak. Wajahku begitu dekat dengan lututnya. Hembusan nafasku nyatanya membuat bulu-bulu itu meremang.

“Indah sekali,” kataku sekalian mengelus-elus betisnya. Kenyal.

“Suka, Susanto?” Saya mengangguk.

“Tunjukkan jika kau senang. Perlihatkan jika betisku indah!”

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya mengusung kaki Mbak Juliana dari lututku. Sekalian masih mengelus betisnya, kuluruskan kaki yang menekuk itu. Saya dikit membungkuk agar mengecup pergelangan kakinya. Pada kecupan yang ke-2, saya menjulurkan lidah agar mengecup sekalian menjilat, mencicip kaki indah itu.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Karena kecupanku, Mbak Juliana turunkan paha kanan dari paha kirinya. Serta tidak menyengaja, kembali mataku kagum lihat sisi dalam kanannya. Sebab ingin lihat lebih jelas, kugigit sisi bawah roknya lantas menggerakkan kepalaku mengarah perutnya. Saat melepas gigitanku, kudengar tawa ketahan, lantas ujung jari-jari tangan Mbak Juliana mengusung daguku. Saya menengadah.

“Kurang jelas, Susanto?” Saya mengangguk.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Mbak Juliana tersenyum nakal sekalian mengusap-usap rambutku. Lantas telapak tangannya mendesak sisi belakang kepalaku hingga saya menunduk kembali. Di muka mataku sekarang terpampang keindahan pahanya. Tidak sempat saya lihat paha semulus serta seindah itu.

BACA JUGA : NGENTOT DENGAN GADIS TIONG HOA

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Sisi atas pahanya ditumbuhi bulu-bulu halus kehitaman. Sisi dalamnya ditumbuhi tapi tidak selebat sisi atasnya, serta warna kehitaman itu cukup menghilang. Begitu kontras dengan pahanya yang berwarna gading.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya merinding. Sebab ingin lihat paha itu lebih utuh, kuangkat kaki kanannya tambah tinggi sekalian mengecup sisi dalam lututnya. Serta paha itu makin jelas. Menarik. Di paha sisi belakang mulus tanpa ada bulu.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Sebab gemas, kukecup berkali-kali. Kecupan-kecupanku makin lama makin tinggi. Serta saat cuma berjarak kurang lebih selebar telapak tangan dari pangkal pahanya, kecupan-kecupanku menjadi ciuman yang panas serta basah.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saat ini hidungku begitu dekat dengan segitiga yang menutupi pangkal pahanya. Sebab begitu dekat, walaupun tersembunyi, dengan jelas bisa kulihat bayangan bibir kewanitaannya. Ada segaris kebasahan terselip membayang dibagian tengah segitiga itu. Kebasahan yang dikelilingi rambut-rambut ikal yang menyelip dari kiri kanan G-stringnya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Sekalian memandang pesona di muka mataku, saya menarik nafas dalam-dalam. Tercium aroma fresh yang membuatku jadi makin tidak berkapasitas. Aroma yang memaksaku terjebak diantara ke-2 iris paha Mbak Juliana. Ingin kusergap aroma itu serta menjilat kemulusannya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Mbak Juliana menghempaskan kepalanya ke sandaran kursi. Menarik nafas berkali-kali. Sekalian mengusap-usap rambutku, diangkatnya kaki kanannya hingga roknya makin terungkap sampai ketahan diatas pangkal paha.

“Suka Susanto?”

“Hmm.. Hmm..!” jawabku bergumam sekalian mengalihkan ciuman ke betis serta lutut kirinya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Lantas kuraih pergelangan kaki kanannya, serta menempatkan telapaknya di pundakku. Kucium lipatan di belakang lututnya. Mbak Juliana menggelinjang sekalian menarik rambutku dengan manja. Lantas saat ciuman-ciumanku merambat ke paha sisi dalam serta makin lama makin mendekati pangkal pahanya, berasa tarikan di rambutku makin keras. Serta saat bibirku mulai mengulum rambut-rambut ikal yang menyembul dari balik G-stringnya, tidak diduga Mbak Juliana menggerakkan kepalaku.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya tertegun. Menengadah. Kami sama-sama memandang. Selang beberapa saat, sekalian tersenyum merayu, Mbak Juliana menarik telapak kakinya dari pundakku. Dia lantas menekuk serta menempatkan telapak kaki kanannya di permukaan kursi. Pose yang begitu memabukkan. Samping kaki menekuk serta terbuka lebar diatas kursi, serta yang samping menjuntai ke karpet.

“Suka Susanto?”

“Hmm.. Hmm..!”

“Jawab!”

“Suka sekali!”

Panorama itu tidak lama. Tidak diduga saja Mbak Tia merapatkan ke-2 pahanya sekalian menarik rambutku.

“Nanti ada yang lihat bayangan kita dari balik kaca. Masuk ke, Susanto,” tuturnya sekalian menunjuk kolong mejanya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya terkesima. Mbak Tia merenggut sisi belakang kepalaku, serta menariknya perlahan-lahan. Saya tidak berkapasitas. Tarikan perlahan-lahan itu tidak dapat kutolak. Lantas Mbak Juliana tidak diduga buka ke dua pahanya serta mendaratkan mulut serta hidungku di pangkal paha itu. Kebasahan yang terselip diantara ke-2 bibir kewanitaan tampak makin jelas. Makin basah. Serta di situlah hidungku datang. Saya menarik nafas untuk hirup aroma yang begitu beri kesegaran. Aroma yang dikit seperti daun pandan tapi dapat membius saraf-saraf di rongga kepala.

“Suka Susanto?”

“Hmm.. Hmm..!”

“Sekarang masuk ke!” ulangnya sekalian menunjuk kolong mejanya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya merangkak ke kolong mejanya. Saya telah tidak bisa berfikir waras. Tidak perduli dengan semua kegilaan yang tengah berlangsung. Tidak perduli dengan norma, dengan norma-norma bercinta, dengan sakral dalam percintaan.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya cuma perduli dengan ke-2 iris paha mulus yang akan menjepit leherku, jari-jari tangan lentik yang akan menjambak rambutku, telapak tangan yang akan mendesak sisi belakang kepalaku, aroma semerbak yang akan menerobos hidung serta penuhi rongga dadaku, kelembutan serta kehangatan dua buah bibir kewanitaan yang menjepit lidahku, serta tetes-tetes birahi dari bibir kewanitaan yang perlu kujilat berkali-kali supaya pada akhirnya dihadiahi segumpal lendir orgasme yang sangatlah ingin kucucipi.

Di kolong meja, Mbak Juliana buka ke-2 iris pahanya lebar-lebar. Saya mengulurkan tangan untuk meraba sela basah diantara pahanya. Tetapi dia menghalau tanganku.

“Hanya lidah, Susanto! OK?”

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya mengangguk. Serta secara cepat membenamkan wajahku di G-string yang menutupi pangkal pahanya. Menggosok-gosokkan hidungku sekalian hirup aroma pandan itu sedalam-dalamnya. Mbak Juliana terperanjat sesaat, lantas dia ketawa manja sekalian mengusap-usap rambutku.

“Rupanya kau tidak sabar ya, Susanto?” tuturnya sekalian melingkarkan pahanya di leherku.

“Hm..!”

“Haus?”

“Hm!”

“Jawab, Susanto!” tuturnya sekalian menyisipkan tangannya untuk mengusung daguku. Saya menengadah.

“Haus!” jawabku singkat.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Tangan Mbak Juliana bergerak melepas tali G-string yang terikat di kiri serta kanan pinggulnya. Saya terpana memandang keindahan dua buah bibir berwarna merah yang basah mengkilap. Sepasang bibir yang dibagian atasnya dihiasi benjolan daging pembungkus clit yang berwarna pink. Saya termangu memandang keindahan yang terpampang persis di muka mataku.

“Jangan diam saja. Susanto!” kata Mbak Juliana sekalian mendesak sisi belakang kepalaku.

“Hirup aromanya!” sambungnya sekalian mendesak kepalaku hingga hidungku terselip diantara bibir kewanitaannya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Pahanya menjepit leherku hingga saya tidak bisa bergerak. Bibirku terjepit serta tertekan diantara dubur serta sisi bawah vaginanya. Sebab mesti bernafas, saya tidak memiliki pilihan terkecuali hirup hawa dari sela bibir kewanitaannya. Cuma dikit hawa yang bisa kuhirup, sesak tapi menyenangkan.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya menghunjamkan hidungku lebih dalam . Mbak Juliana terpekik. Pinggulnya diangkat serta digosok-gosokkannya dengan Julianar sampai hidungku basah berlumuran tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya. Saya mendengus. Mbak Juliana menggelinjang serta kembali mengusung pinggulnya. Kuhirup aroma kewanitaannya dalam-dalam, seakan vaginanya ialah nafas kehidupannku.

“Fantastis!” kata Mbak Juliana sekalian menggerakkan kepalaku dengan lembut. Saya menengadah. Dia tersenyum memandang hidungku yang sudah licin serta basah.

“Enak ‘kan?” sambungnya sekalian membelai ujung hidungku.

“Segar!” Mbak Juliana ketawa kecil.

“Kau pintar memanjakanku, Susanto. Saat ini, kecup, jilat, serta hisap sepuas-puasmu. Perlihatkan jika kau memuja ini,” tuturnya sekalian menyibakkan rambut-rambut ikal yang beberapa menutupi bibir kewanitaannya.

“Jilat serta hisap dengan rakus. Perlihatkan jika kau memujanya. Perlihatkan perasaan hausmu! Janganlah ada setetes juga yang masih ada! Perlihatkan dengan rakus seakan ini ialah peluang pertama serta yang paling akhir bagimu!”

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya dipengaruhi dengan beberapa katanya. Saya tidak perduli meskipun ada suara perintah di tiap-tiap kalimat yang diucapkannya. Saya memang rasakan begitu lapar serta haus untuk mereguk kelembutan serta kehangatan vaginanya. Kerongkonganku berasa panas serta kering.

NONTON JUGA : NGENTOT DENGAN AYAH

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya rasakan betul-betul haus serta ingin selekasnya memperoleh segumpal lendir yang akan dihadiahkannya untuk membasahi kerongkongannku. Lantas bibir kewanitaannya kukulum serta kuhisap supaya semua kebasahan yang menempel disana mengalir ke kerongkonganku. Ke-2 bibir kewanitaannya kuhisap-hisap bergantian.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Kepala Mbak Juliana terkulai di sandaran kursinya. Kaki kanannya melingkar menjepit leherku. Telapak kaki kirinya mencapai bahuku. Pinggulnya terangkat serta terhempas di kursi berkali-kali. Kadang-kadang pinggul itu berputar-putar menguber lidahku yang bergerak Julianar pada dinding kewanitaannya. Dia mendesah setiap saat lidahku menjilat clitnya. Nafasnya mengebu. Terkadang dia memekik sekalian menjambak rambutku.

“Ooh, ooh, Susanto! Susanto!” Serta saat clitnya kujepit diantara bibirku, lantas kuhisap serta permainkan dengan ujung lidahku, Mbak Juliana mendesah menyebut-nyebut namaku..

“Susanto, sangat nikmat sayang.. Susanto! Ooh.. Susanto!”

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Dia jadi Julianar. Telapak kakinya menghentak-hentak di pundak serta kepalaku. Paha kanannya tidak melilit leherku. Kaki itu saat ini diangkat serta tertekuk di kursinya. Mengangkang. Telapaknya mencapai kursi. Menjadi alternatifnya, ke-2 tangan Mbak Juliana menjambak rambutku. Mendesak serta menggerak-gerakkan kepalaku sekehendak hatinya.

“Susanto, julurkan lidahmuu! Hisap! Hisaap!”

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya menjulurkan lidah sedalam-dalamnya. Membenamkan wajahku di vaginanya. Serta mulai kurasakan kedutan-kedutan di bibir vaginanya, kedutan yang mengisap lidahku, mengundang supaya masuk lebih dalam. Beberapa menit lalu, lendir mulai berasa di ujung lidahku. Kuhisap semua vaginanya.

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya tidak ingin ada setetes juga yang terbuang. Berikut hadiah yang kutunggu-tunggu. Hadiah yang bisa menyejukkan kerongkonganku yang kering. Ke-2 bibirku kubenamkan sedalam-dalamnya agar langsung mengisap dari bibir vaginanya yang mungil.

“Susanto! Hisap Susanto!”

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya tidak tahu apa rintihan Mbak Juliana bisa terdengar di luar ruangan kerjanya. Kalau rintihan itu terdengar juga, saya tidak perduli. Saya cuma perduli dengan lendir yang bisa kuhisap serta kutelan. Lendir yang cuma segumpal kecil, hangat, kecut, yang mengalir membasahi kerongkonganku. Lendir langsung ditumpahkan dari vagina Mbak Juliana, dari pinggul yang terangkat supaya lidahku terhunjam dalam.

“Oh, fenomenal,” gumam Mbak Juliana sekalian menghenyakkan kembali pinggulnya ke atas kursinya.

Dia menunduk serta mengusap-usap ke-2 iris pipiku. Selang beberapa saat, jari tangannya menengadahkan daguku. Sesaat saya berhenti menjilat-jilat sisa-sisa cairan di permukaan kewanitaannya.

“Aku senang sekali, Susanto,” tuturnya. Kami sama-sama memandang. Matanya berbinar-binar. Sayu. Ada kelembutan yang memancar dari bola matanya yang memandang sendu.

“Susanto.”

“Hm..”

“Tatap mataku, Susanto.” Saya memandang bola matanya.

“Jilat cairan yang masih ada sampai bersih”

“Hm..” jawabku sekalian mulai menjilati vaginanya.

“Jangan menunduk, Susanto. Jilat sekalian memandang mataku. Saya ingin lihat erotisme di bola matamu saat menjilat-jilat vaginaku.”

Hubungan Terlarang Atasan Bawahan – Saya menengadah untuk memandang matanya. Sekalian melingkarkan ke-2 lenganku di pinggulnya, saya mulai menjilat serta mengisap kembali cairan lendir yang masih ada di lipatan-lipatan bibir kewanitaannya.

“Kau memujaku, Susanto?”

“Ya, saya memuja betismu, pahamu, serta diatas semuanya, yang ini.., muuah!” jawabku sekalian mencium kewanitaannya dengan mesra sepenuh hati.

Mbak Juliana tersenyum manja sekalian mengusap-usap rambutku.