Cerita Seks : Aku Dihamili Anak Tetangga

 

Namaku Lani, seseorang ibu rumah-tangga, umurku 36 tahun. Suamiku namanya Prasojo, usia 44 tahun, seseorang pegawai di pemerintahan di Bantul. Saya bahagia dengan suami serta ke-2 anakku. Suamiku seseorang lelaki yang gagah serta bertubuh besar, biasalah dahulu ia seseorang tentara. Penampilanku meskipun telah termasuk berusia tetapi begitu tertangani, sebab saya rajin ke salon serta fitnes serta yoga. Kata orang, saya serupa seperti Sandy Harun.

Tubuhku masih tetap dapat disebutkan langsing, meskipun payudaraku termasuk juga besar, sebab telah miliki anak dua. Anakku yang pertama bernama Rika, seseorang gadis remaja yang bergerak dewasa. Ia mau lulus SMA, yang ke-2 Sangga,masih tetap sekolah SMA kelas 1. Rika meskipun tinggal serumah dengan kami juga seringkali habiskan saatnya ditempat kosnya di lokasi Gejayan.

Jika si Sangga, sebab cowok remaja, seringkali bergabung dengan teman-temannya atau repot berkegiatan di sekolahnya. Sejak tak akan repot mengurus anak-anak, kehidupan seksku makin tua malah makin menjadi-jadi. Ditambah lagi suamiku tidak hanya bertubuh kekar, juga orang yang begitu terbuka masalah masalah sex. Belakangan ini, sesudah anak-anak besar, kami berlangganan internet.
Saya serta suamiku seringkali searching beberapa masalah sex, baik video, narasi, atau foto-foto. Semua jenis style terkait tubuh kami kerjakan. Kami bercinta begitu seringkali, minimum satu minggu 3x. Tidak tahu kenapa, sejak kami seringkali berselancar di internet, gairah seksku makin menggebu. Menjadi tentara, suami seringkali tidak ada di dalam rumah, tetapi jika cocok di dalam rumah, kami langsung main kuda-kudaan, hehehe. Telah lama kami akan memutus tidak untuk miliki anak lagi.

Tetapi saya begitu takut untuk pasang spiral. Dahulu saya sempat coba suntik serta pil KB. Tetapi saat ini kami seringkali gunakan kondom, atau lebih biasanya suamiku ‘keluar’ diluar. Umumnya di mukaku, di payudara, atau bahkan juga di mulutku.

Intinya kami begitu berhati-hati supaya Sangga tidak miliki adik lagi. Serta tenang saja, suamiku begitu jago mengatur muncratannya, menjadi saya tidak cemas muncrat di rahimku. Meskipun telah 2x melahirkan tubuhku termasuk juga sintal serta seksi.

Payudaraku masih tetap cukuplah kencang sebab tertangani. Tetapi yang pasti, bodiku masih tetap semlohai, sebab saya masih tetap miliki pinggang. Saya sadar, jika tubuhku masih membuat beberapa pria menelan air liurnya. Ditambah lagi saya termasuk juga ibu-ibu yang menyukai gunakan pakaian yang agak ketat. Telah rutinitas sich dari remaja.

Suamiku termasuk juga seseorang petinggi yang baik. Ia ramah pada tiap-tiap orang. Di kampung ia termasuk juga aparat yang disenangi oleh beberapa tetangga. Ditambah lagi suamiku banyak juga bergaul dengan anak-anak muda kampung. Jika cocok di dalam rumah, suamiku seringkali ajak anak-anak muda untuk bermain serta terlibat percakapan di teras rumah.

Sejak satu tahun waktu lalu, di halaman depan rumah kami dibangun seperti gazebo untuk nongkrong beberapa tetangga. Sesudah beli tv baru, tv lama kami, di taruh di gazebo itu, hingga beberapa tetangga kerasan nongkrong disana. Yang pasti, banyak bapak-bapak yang curi-curi pandang ke tubuhku jika cocok saya bersih-bersih halaman atau ikut-ikutan nimbrung sesaat ditempat itu.

Maklumlah, jika arti kerennya, saya ini termasuk juga MILF, hehehe. Tidak hanya bapak-bapak, ada pula pemuda serta remaja yang seringkali bermain di dalam rumah. Diantaranya sebab gazebo itu juga dipakai menjadi perpustakaan untuk masyarakat.

Salah satunya anak kampung yang seringkali main ke rumah ialah Indun, yang masih tetap SMP kelas 2. Ia anak tetangga kami yang berjarak 3 rumah dari tempat kami.

Anaknya baik serta mudah tangan. Sama suamiku ia begitu akrab, bahkan juga seringkali menolong suamiku jika lagi bersih-bersih rumah, atau membelikan kami suatu di warung. Semenjak masih tetap anak-anak, Indun dekat dengan anak-anak kami, mereka seringkali main karambol bareng di gazebo kami. Bahkan juga terkadang Indun bermalam disana, sebab jika malam, gazebo itu dikasih penutup oleh suamiku, hingga tidak berasa dingin.

Dalam satu malam, saya serta suamiku tengah bermesraan di kamar kami. Sejak seringkali lihat adegan blow job di internet, saya menjadi ketagihan mengulum penis suamiku. Ditambah lagi penis suamiku ialah penis yang sangat gagah sedunia bagiku. Tidak kalah dengan penis-penis yang biasa kulihat di BF. Walau sebenarnya dahulu waktu masih tetap pengantin muda saya tetap menampik jika dibawa blowjob.

Tidak tahu mengapa saat ini di umur yang telah pertengahan kepala tiga ini saya malah terpikat mengulum batang suamiku. Bahkan juga saya dapat orgasme cukup dengan mengulum batang besar itu. Setiap tonton film blue juga mulutku terasanya gatal.

Jika cocok tidak ada suamiku, saya tetap membawa pisang jika tonton film-film gituan. Biasalah, sekalian tonton, sekalian makan pisang, hehehe. Malam itu juga saya dengan rakus menjilati penis suamiku. Buat mas Prasojo, mulutku ialah vagina kedua-duanya. Dengan berseloroh, ia sempat katakan jika sebetulnya ia sama juga telah poligami, sebab ia miliki dua lubang yang saling hotnya untuk dimasuki.

Perkataan itu ada benarnya, sebab mulutku sudah ada hampir mirip vagina, baik dalam mengulum ataupun dalam mengisap. Sebab kami hindari kehamilan, bahkan juga sejumlah besar sperma suamiku masuk ke mulutku. Malam itu kami lupa jika Indun tidur di gazebo kami.

Seperti biasa, saya teriak-teriak pada saat penis suamiku mengaduk-aduk vaginaku. Suamiku begitu kuat. Malam itu saya telah berulang-kali orgasme, sesaat suamiku masih tetap fresh bugar serta menggenjotku terus-terusan. Tidak diduga kami tersentak, saat kami dengar nada berisik di jendela.

Baca Juga : http://bacabokep.co/tak-dapat-kubayangkan-aku-diperawani-di-ruangan-kelas-sekolahku-dan-aku-menikmatinya/

Selekasnya suami mencabut batangnya serta buka jendela. Diluar terlihat Indun dengan muka kaget serta gemetaran ketahuan melihat kami. Suamiku terlihat geram serta melongokkan badannya keluar jendela. Indun yang kaget serta ketakutan meloncat ke belakang. Karena sangat kagetnya, kakinya terantuk selokan kecil di teras rumah. Indun terjerembab serta terjungkal ke belakang. Suamiku tidak menjadi geram, tetapi ia jengkel juga.

“Walah, Ndun! Kamu itu ngapain?” bentaknya.
Indun ketakutan 1/2 mati. Ia begitu menghargai kami. Suamiku yang semula jengkel juga tidak menjadi memarahinya. Indun gelagepan. Mukanya meringis meredam sakit, kelihatannya pantatnya terantuk suatu di halaman.

Saya semula sangat malu diintip anak ingusan itu. Tetapi saya juga menyayangi Indun, bahkan juga seperti anakku sendiri. Saya juga sadar, sebetulnya kami yang salah sebab bercinta dengan nada segaduh itu. Saya selekasnya mencapai dasterku serta turut mendekati Indun.

“Aduh, mas. Kasian ia, tidak perlu dimarahin. Kamu sakit Ndun?” Saya mendekati Indun serta memegang tangannya.
Muka Indun begitu memelas, pada takut, sakit, serta malu.
“Sudah tidak papah. Kamu sakit, Ndun?” tanyaku. “Sini coba kamu berdiri, dapat tidak?”
Sebab gemeteran, Indun tidak berhasil coba berdiri, ia justru terjerembab lagi. Dengan reflek, saya memegang punggungnya, hingga kami berdua jadi berpelukan.

Dadaku menyentuh lengannya, tentunya ia bisa rasakan lembutnya gundukan besar dadaku, sebab saya cuma menggunakan daster tipis yang sambungan, sesaat di dalamnya saya tidak menggunakan apa-apa.

“Aduh sorri, Ndun” pekikku.
Tidak diduga suamiku ketawa. Agak jengkel saya melirik suamiku, mengapa ia menertawakan kami.
“Aduh Mas ini. Ada anak jatuh kok justru ketawa”
“Hahaha.. lihat itu, Dik. Si Indun nyatanya telah gede, hahaha…” kata suamiku sekalian menunjuk selangkangan Indun. Weitss… nyatanya mungkin barusan Indun melihat kami sekalian mengocok, sebab diatas celananya yang agak turun, batang kecilnya muncul ke atas.

Penis kecil itu tampak begitu tegang serta berwarna kemerahan. Malu juga saya lihat adegan itu, ditambah lagi si Indun. Ia lebih gelagepan.

“Hussh Mas. Kasihan ia, telah malu tuh”, kataku yang malah meningkatkan malu si Indun.
“Kamu senang yang lihat baru saja, Ndun? Wah, hayooo… kamu nafsu ya lihat istriku?” goda suamiku.
Suamiku justru ketawa-ketawa sekalian berdiri di belakangku. Tentunya muka Indun lebih memerah, meskipun tetap harus penis kecilnya tegak berdiri. Jengkel juga saya sama suamiku. Telah tidak menolonng justru mentertawakan anak ingusan itu.
“Huh, Mas mbok janganlah godain ia, mbok tolongin nih, angkat dia”
“Lha ia khan telah berdiri, ya tho Ndun? Wakakak” kata suamiku.

Saya benar-benar tidak tega lihat muka anak itu. Merah padam sebab malu. Saya lantas berdiri mengangkang di muka anak itu, serta memegang dua tangannya untuk menariknya berdiri. Berat juga badannya. Kutarik kuat-kuat, pada akhirnya ia terangkat.

Tetapi baru 1/2 jalan, mungkin sebab ia masih tetap gemetar serta saya juga kurang kuat, tidak diduga malah saya yang jatuh menerpanya. Ohhh… saya berupaya untuk meredam badanku supaya tidak menindih anak itu, tetapi tanganku justru mendesak dada Indun serta membuatnya jatuh terlentang satu kali lagi. Bahkan juga kesempatan ini, saya turut jatuh terduduk di pangkuannya.

Dan…. ohhhh. Sleppp…. berasa suatu menggesek bibir vaginaku.
“Waa…!” saya tersentak serta sekejap bingung apakah yang berlangsung, begitupun dengan Indun, mukanya terlihat begitu ketakutan. “Aduuuhhh!” teriakku.

Sesaat suamiku malah ketawa lihat kami jatuh lagi. Tidak diduga saya sadar benda apakah yang bergesekan dengan vaginaku, penis kecil si Indun! Penis itu menggesek lokasi sensitifku selain sebab vaginaku masih tetap basah oleh persetubuhanku dengan suamiku, juga sebab saya tidak kenakan apa-apa dibalik daster pendekku.
“Ohhhhh…. apakah yang berlangsung?” Pikirku.
Mungkin saja sebab penis Indun yang masih tetap imut serta lobang vaginaku yang biasa digagahi penis besar suami, jadinya begitu gampang diselipin batang kecil itu.

“Ohhh.. Masss???” desisku pada suamiku. Kesempatan ini suamiku berhenti ketawa serta agak kaget.
“Napa, say?” tanyanya heran.
Kami bertiga saling kaget, suamiku kelihatannya juga mengerti apakah yang berlangsung. Ia mendekati kami, serta lihat jika kelamin kami sama-sama bersentuhan. Sesaat kami bertiga terdiam bingung dengan apakah yang berlangsung. Saya rasakan penis Indun berdenyut-denyut.

Lobangku juga selekasnya menanggapinya, mengingat perasaan tanggung sesudah persetubuhanku dengan suamiku yang terlambat. Saya coba bangun, tetapi tidak tahu mengapa, kakiku menjadi gemetar serta kembali selangkanganku mendesak badan si Indun. Tentunya penisnya melesak ke lobangku. Ohhh… saya rasakan sensasi yang biasa kutemui saat tengah bersetubuh.
“Ohhh…” desisku. Indun terpekik ketahan. Mukanya memerah. Tetapi saya rasakan pantatnya dikit dinaikkan menanggapi selangkanganku. Slepppp… kembali penis itu menyerang dalam lobangku.
Yang mengherankan suamiku diam saja, tidak tahu sebab ia kaget atau apakah. Cuma saya lihat mukanya turut memerah serta dikit buka mulutnya, mungkin bingung juga untuk bereaksi dengan keadaan aneh ini.

Saya diam saja meredam napas sekalian memperkuat tanganku yang meredam tubuhku. Tanganku ada disamping kanan serta kiri si Indun. Sesaat Indun dengan muka merah padam memandang mukaku dengan cemas. Agak jengkel juga saya lihat mukanya, cemas, takut, tetapi kok penisnya masih tegang di vaginaku. Basic anak mesum, pikirku. Tetapi aneh juga, saya malah rasakan sensasi yang aneh karenanya ada penis anak yang telah kuanggap saudaraku sendiri itu dalam vaginaku.

Agak kasihan juga lihat mukanya, dan muncul perasaan sayang. Pikirku, kasihan juga anak ini, ia begitu bernafsu melihat kami, dan ditambah lagi yang dikawatirkan, sebab penisnya telah terlanjur dalam vaginaku. Saya melirik suamiku sekalian masih duduk di pangkuan si Indun. Suamiku masih diam saja. Agak jengkel juga saya lihat tanggapan mas Prasojo. Tidak diduga pikiran nakal menyelimutinya.

Mengapa tidak kuteruskan saja persetubuhanku dengan Indun, toh penisnya telah menancap di vaginaku. Ditambah lagi jika lihat muka hornynya yang telah di ubun-ubun, kasihan lihat Indun jika tidak dilanjutkan. Dengan nekat saya kembali mendesak pantatku ke depan. Vaginaku meremas penis Indun di. Rasakan remasan itu, Indun terpekik kaget. Suamiku mendengus kaget juga.

“Dik, aaa…paaaa yang kaulakukan?” kata suamiku gagap.
Saya diam saja, akan tetapi saya mulai menggoyang pantatku maju mundur.
Suamiku melongo saat ini. Mukanya mendekat lihat mukaku 1/2 tidak yakin. Indun tidak berani lihat suamiku. Ia memandang wajahku keheranan serta penuh nafsu.
“Mas… saya lanjutkan saja ya, kasihan si Indun. Ditambah lagi khan telah terlanjur masuk, toh sama saja…” bisikku berani ke suamiku.
Saya tidak dapat lagi menyangka perasaan suamiku. Kecelakaan ini betul-betul diluar perkiraan kami semua. Tetapi suamiku memegang pundakku, yang kupikir mengizinkan peristiwa ini. Tidak tahu apakah yang berada di pikiranku, saya tidak diduga begitu ingin menyelesaikan nafsu si Indun.

Si Indun mengerang-erang sekalian terbaring di rerumputan halaman rumah kami. Kembali saya memaju-mundurkan pantatku sekalian meremas-remas penis kecil itu di lobangku. Remasanku tetap membuat suamiku tidak tahan, sebab saya rajin turut senam. Ditambah lagi ini si Indun, anak ingusan yang tidak memiliki pengalaman.

Tidak diduga, sebab sensasi yang aneh ini, saya rasakan orgasme di vaginaku. Jarang saya orgasme secepat itu. Saya mendesah serta mengeluh sekalian memegang erat lengan suamiku. Banjir mengalir dalam lobangku. Automatis remasan dalam vaginaku menguat, serta penis kecil si Indun dijepit dengan mengagumkan.
Indun meringis serta mengeluh. Pantatnya melengkung naik, dann…. croottttttttt………..
Cairan panas itu membanjiri rahimku. Saya seperti hilang kendali, semua tidak diduga gelap serta saya diserang oleh badai kenikmatan…
“Ohhhhhhhhhh…”

Saya lantas terkulai sekalian menunduk meredam tubuhku dengan ke-2 tanganku. Nafasku terengah-engah tidak karuan. Sesaat saya diam tidak tahu mesti bagaimana. Saya serta suamiku sama-sama berpandangan.
“Dik… Indun tidak gunakan kondom ..?” suamiku terbata-bata.
Kami saling kaget mengerti jika percintaan itu tiada pengaman benar-benar, serta saya sudah terima sangat banyak sperma dalam rahimku, sperma si anak ingusan. Ohhh… tidak diduga saya sadar akan kemungkinan dari persetubuhan ini. Saya dalam waktu subur, serta begitu bisa saja saya akan memiliki kandungan anak dari Indun, bocah SMP yang masih tetap ingusan.

Pelan-pelan saya berdiri serta mencabut penis Indun dari vaginaku. Penis itu masih tetap 1/2 berdiri, serta berkilat basah oleh cairan kami berdua. Saya serta suamiku mengehela nafas. Cepat cepat saya melakukan perbaikan dasterku. Dengan grogi, Indun juga meningkatkan celananya serta duduk ketakutan di rerumputan.
“Maa.. ma’af, Bu..” pada akhirnya keluar juga suaranya.
Saya memandang Indun dengan muka seramah mungkin. Suamiku yang pada akhirnya pegang fungsi.
“Sudahlah, Ndun. Sana kamu pulang, mandi serta cuci-cuci!” perintahnya tegas.
“Iya, om. Ma.. maaf ya Om” kata Indun sekalian menunduk. Selekasnya ia melaju pergi melalui halaman samping.
“Masuk!” suamiku lihat ke arahku dengan nada agak keras.
Gemetar juga saya dengar suamiku yang umumnya halus serta mesra padaku. Aduuh, apakah yang akan berlangsung?bKami berdua masuk ke rumah, saya tercekat tidak dapat menyampaikan apa-apa. Tidak diduga pikiran-pikiran jelek menderaku, jangan-jangan suamiku tidak memaafkanku.

Ohhh apakah yang dapat kulakukan. Di kamar tangisanku pecah. Saya tidak berani memandang suamiku. Sampai kini saya ialah istri yang setia serta bahagia bersama dengan suamiku, tetapi malam ini… tidak diduga saya terasa begitu kotor serta hina. Agak lama suamiku membiarkanku menangis. Selanjutnya ia mengelus pundakku.
“Sudahlah bu, ini khan kecelakaan.”
Hatiku begitu lega. Saya memandang suamiku, serta mencium bibirnya. Tidak diduga saya jadi begitu takut kehilangan ia. Kami berpelukan lama sekali.
“Tapi mas… jika aku…… hamil bagaimana?” tanyaku membulatkan tekad.
“Ah.. tidak mungkin, ia khan masih tetap ingusan. Serta jika juga Dik Idah hamil khan tidak papah, si Sangga sudah siap jika miliki adik lagi”, sanggah suamiku.

Narasi Mesum Bersambung | Jawaban itu dikit menentramkan hatiku. Pada akhirnya kami bercinta lagi. Kurasakan suamiku demikian mengebu-gebu mengerjaiku. Apakah yang berada di pikirannya, saya tidak tahu, walau sebenarnya ia baru saja saja lihat istrinya disetubuhi anak muda. Hingga saya kelelehan melayani suamiku. Pada orgasme yang ke-3 saya menyerah.
“Mas, keluarin di mulutku saja ya… saya tidak kuat lagi” bisikku pada orgasme ketigaku saat kami dalam tempat doggystye.
Suamiku keluarkan penisnya serta menyorongkannya ke mulutku. Sekalian terbaring saya menyedot-nyedot penis besar itu. Seputar 1/2 jam lalu, mulutku penuh dengan sperma suamiku. Dengan penuh kasih sayang, saya menelan semua cairan kental itu.

Baca Juga : http://bacabokep.co/kesempatan-tante-nakal-menggodaku-ketika-paman-sedang-keluar-kota/

Hari-hari setelah itu berlalu dengan biasa. Saya serta suamiku masih dengan kemesraan yang sama. Kami seakan-akan melupakan peristiwa malam itu. Akan tetapi, Indun tidak berani main ke rumah.

Agak kangen juga kami dengan anak itu. Sebetulnya rumah kami dekat dengan rumah Indun, tetapi saya juga tidak berani untuk lihat kondisi anak itu. Akan tetapi saya masih tetap seringkali bertemu ibunya, serta seringkali iseng-iseng nanya kondisi Indun. Tuturnya sich ia baik-baik saja cuma saat ini lagi repot persiapan ingin naik kelas 3 SMP.

Satu minggu sebelum bulan puasa, Indun hadir ke rumah mengantar selamatan keluarganya. Mukanya masih tetap terlihat malu-malu bertemu saya. Saya sendiri dengan riang menemuinya di muka rumah.
“Hai Ndun, kok kamu jarang main ke rumah?” tanyaku.
“Eh, iya bu. Tidak papah kok Bu”, jawabnya sekalian tersipu.
“Bilang ke mamamu, terima kasih ya”
“Iya bu”, jawab Indun dengan canggung. Ia bahkan juga tidak berani memandang wajahku. Tidak tahu mengapa saya terasa kangen sekali sama anak itu. Walau sebenarnya ia jelas masih tetap anak ingusan, serta bukan type-type anak SMP yang popular serta gagah seperti yang jago-jago main basket. Jelas si Indun tidaklah terlalu gagah, tetapi ukuran tengah untuk anak SMP. Cuma badannya memang tinggi.

“Ayo masuk dahulu. Saya buatin minum ya” ajakku.
Indun terlihat masih tetap agak malu serta takut untuk masuk rumah kami. Siang itu suamiku masih tetap dinas ke Kulonprogo. Anak-anak juga tidak ada yang di dalam rumah. Kami terlibat percakapan sesaat mengenai sekolahnya dan lain-lain. Sesekali saya terasa Indun melirik ke badanku. Wah, tidak tahu mengapa, saya terasa juga senang diperhatiin sama anak itu badanku. Saat itu saya kenakan kaos agak ketat sebab baru saja turut kelas yoga bersama dengan ibu-ibu Candra Kirana. Tentu saja dadaku tampak begitu menonjol. Pada akhirnya tidak demikian lama, Indun pamit pulang. Ia terlihat lega sikapku kepadanya tidak beralih sesudah peristiwa malam itu.

Sampai pada bulan setelah itu saya tidak diduga resah. Sudah ada hampir melalui dua minggu saya belumlah hadir bulan. Tentunya peristiwa saat itu membuatku makin bertambah cemas. Bagaimana jika betul-betul menjadi? Saya tidak berani katakan pada Mas Prasojo. Untuk lakukan test saja saya begitu takut. Takutnya jika positif.

Sampai dalam satu pagi saya lakukan test kehamilan di kamar mandi. Serta, deg! Hatiku seperti ingin copot. Lembaran kecil itu tunjukkan jika saya positif hamil!!! Oh Tuhan!
Saya betul-betul kaget serta tidak yakin. Jelas ini bukan anak suamiku. Kami tetap bercinta dengan aman. Serta jelas sama dengan waktu peristiwa, ini ialah anak Indun, si anak SMP yang belumlah cukuplah usia. Saya betul-betul bingung. Sepanjang hari saya tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku berkecamuk tidak karuan. Tidak saja sebab saya tidak siap untuk miliki anak lagi, tetapi juga bagaimana reaksi suamiku, jika saya hamil dari lelaki lainnya. Itu yang sangat membuatku bingung.

Hari itu saya tidak berani untuk memberitahu suamiku. Dua hari selanjutnya, malah suamiku yang rasakan ketidaksamaan sikapku.
“Dik Lani, ada apakah? Kok kelihatannya kurang sehat?” tanyanya penuh perhatian.
Saat itu kami tengah tidur bedua. Saya tidak dapat keluarkan beberapa kata. Yang kulakukan cuma memeluk suamiku erat-erat. Suamiku membalas pelukanku.
“Ada apakah sayang?” tanyanya.
Tubuh kekarnya memelukku mesra. Saya tetap terasa tenang dalam pelukan lelaki perkasa itu. Saya tidak berani menjawab. Suamiku memegang mukaku, serta menghadapkan ke mukanya. Kelihatannya ia mengerti apakah yang berlangsung. Sekalian memandang mataku, ia menanyakan, “benarkah?”
Saya mengangguk perlahan sekalian menagis, “aku hamil, mas…”
Jelas suamiku juga kaget. Ia diam saja sekalian masih memelukku. Lantas ia menjawab singkat’
“besok kita ke dokter Merlin”. Saya mengangguk, lantas kami sama-sama berpelukan sampai pagi datang.
Hari selanjutnya pada sore hari kami berdua menjumpai dokter Merlin. Sesudah dikerjakan test, dokter cantik itu memberikan selamat pada kami berdua.
“Selamat, Pak serta Bu Prasojo. Anda akan memperoleh anak ketiga”, kata dokter itu riang.
Kami mengatakan terima kasih atas perkataan itu, serta selama jalan pulang tidak berkata sepatah kata juga. Sesudah itu, suamiku tidak menyinggung permasalahan itu, bahkan juga ia memberitahu pada anak-anak jika mereka akan miliki adik baru.

Anak-anak nyatanya juga senang, sebab telah lama tidak ada anak kecil di dalam rumah. Buat mereka, adik kecil akan meramaikan rumah yang saat ini telah tak akan ada nada anak kecilnya.
Malamnya, sesudah tahu saya hamil, suamiku malah menyetubuhiku dengan ganas. Saya tidak paham apa ia ingin supaya anak itu gugur atau sebab ia terasa begitu bernafsu padaku. Yang pasti saya menyambutnya dengan tidak kalah bernafsu. Bahkan juga kami baru tidur mendekati jam 3 pagi hari sesudah selama malam kami bergulat di kasur kami.

Saya tidak paham lagi bagaimana bentuk mukaku malam itu, sebab selama malam mulutku disodok-sodok penis suamiku, serta dipenuhi dengan muncratan spermanya yang sampai 3x membasahi muka serta mulutku. Saya hampir tidak dapat bangun pagi harinya, sebab semua tubuhku seperti remuk dikerjain suamiku. Untungnya keesokannya hari libur, menjadi saya tidak mesti cepat-cepat mempersiapkan sekolah anak-anak.

Hari-hari setelah itu berlalu dengan mengagumkan. Suamiku makin bertambah hot tiap-tiap malam. Saya juga tetap terasa horny. Wah, mujur juga jika semua ibu-ibu ngidamnya penis suami seperti kehamilanku kesempatan ini. Hamil kesempatan ini benar-benar beda dengan kehamilanku awal mulanya, yang umumnya gunakan ngidam tidak karuan.

Hamil kesempatan ini malah saya terasa begitu enjoy serta bernafsu birahi tinggi. Tiap-tiap malam vaginaku berasa senut-senut, ada atau tidak ada suamiku. Jika cocok ada enak, saya tinggal naik serta goyang-goyang pinggang. Jika cocok tidak ada saya yang seringkali kebingungan, serta mencari di internet film-film porno.

Telah itu tentu saya mainin gunakan pisang, yang menjadi langgananku di pasar tiap-tiap pagi, hehehe. Yang menjadi permasalahan, ialah perlukah saya memberitahu si Indun jika saya hamil dari benihnya? Saya tidak berani menanyakan pada suamiku. Ia mensupport kehamilanku saja sangatlah membahagiakanku.

Saya jadi bahagia dengan kehamilan ini. Diluar dugaanku, nyatanya kami sekeluarga telah siap menyongsong anggota baru keluarga kami. Itu perihal yang begitu saya syukuri.