Cerita Panas Pilihan: Rahasia Seorang Istri Pengusaha Bagian III

Enghh.. ahhss..,” Kristin mendesah serta hentikan gerakannya. Ia mengerti sekarang tempat sangatlah kritis. Gerakan-gerakannya malah mengantarkan ujung penis Partodi terhubung bibir vaginanya melalui bagian kiri CD-nya. Kristin rasakan kepala penis Partodi telah ada pas di dalam bibir vaginanya yang basah serta tidak terhambat CD yang sekarang meleset ke samping.

“Hmm.. bu, mengapa berhenti.. sudah ada hampir terlepas ikatannya nih..,” Partodi selalu berjalan berupaya melepas ikatan tangannya. Tetapi ia juga rasakan penisnya telah menyentuh kulit vagina Kristin dengan cara langsung, sebab bagian CD kristin yang membasah tergeser ke samping.

Kristin berupaya kembalikan konsentrasinya, serta berupaya menjejak kaki ke lantai supaya tubuhnya naik serta vaginanya menjauh dari penis Partodi. Akan tetapi usahanya tidak berhasil, sekarang ikatan lakban malah mengancing tempat itu, Kristin tidak mungkin naik, cuma dapat turun ke bawah seringkali lantas naik lagi sesudah ikatan melonggar kembali.

Kristin mulai putus harapan. Ia mesti dapat bertambah cepat melepas ikatan lakban itu sebelum penis Partodi terhubung lebih jauh vaginanya. Pikiran sadarnya masih tetap berjalan serta mengerti sekejap lagi ia akan disetubuhi Partodi, dalam kondisi sangat terpaksa demikian.

Konsentrasi Kristin tidak berhasil. Pergerakan Partodi dari bawah membuat kepala penisnya mulai masuk membelah bibir vagina Kristin.

“Ough..,” Partodi tidak dapat meredam desah kesenangan rasakan kepala penisnya menguak bibir vagina Kristin. Ia selalu berjalan berupaya melepas ikatan ditangannya yang terhimpit badan, tetapi tiap-tiap gerakannya membuat kepala penisnya mulai bermain keluar masuk di bibir vagina Kristin.

Hal tersebut memberikan sensasi kesenangan pada Kristin, ia masih tetap berupaya diam di atas badan Partodi sampai ada peluang menjejak kaki supaya vaginanya menjauh dari penis Partodi. Kristin pada akhirnya berspekulasi. Sekali pergerakan ke bawah, lantas sekuat tenaga menjejak kaki ke lantai pasti akan membantunya menghindari vaginanya dari penis Partodi.

“Enghhsshh.. ahh.., bang janganlah gerak duluhh.. ini tidak bisa berlangsung bang, saya wanita bersuami serta abang sudah pasti beristri kan?.” kata Kristin, mukanya bersemu merah. Badan serta muka Kristin dan kulitnya yang putih serupa dengan artis Mona Ratuliu.

“Iya bu.. saya juga fikir demikian. Tetapi bagaimana lagi, tempat kita susah beralih saat ikatan ini..,” jawab Partodi, ia juga jadi serba salah dengan tempat itu.

“Oke bang.. saat ini gini saja.. saya akan berjalan turun, serta mungkin itu akan berlangsung.. anu abang dapat masuk ke anu saya.. tetapi itu cuma sekali ya, serta saya akan menggerakkan ke atas membuatnya terlepas lagi. Sesudah itu kita konsentrasi lagi untuk melepas lakban sialan ini..,” kata Kristin dengan nafas berat.

“Iya.. iya. Terserah ibu. Tetapi tolong saya janganlah dilaporkan ke atasan saya ditambah lagi polisi bu. Jika kontol saya masuk ke pepek ibu.. kelak saya disebut memperkosa,” Partodi polos ketakutan.

“Hnnggaak bang.. ini kan sebab perampokan sialan itu, menjadi bukan salah saya atau abang.. kita saling berupaya keluar dari permasalahan ini kok.. saat ini abang diam ya.. saya akan berupaya. Ehmm… enghhmmmpp… ahssstt banngghh… ahhhkksss,” Kristin mengerakan tubuhnya berubah ke bawah. Pergerakan itu membuat bibir vaginanya yang telah menjepit ujung penis Partodi menelan 1/2 penis itu.

Partodi agak hitam kulitnya, tetapi mukanya manis seperti artis Anjasmara, serta badannya kekar. Penis Partodi dirasa Kristin semakin besar serta padat dari penis Aris suaminya. Kristin rasakan sensasi nikmat waktu kepala penis Partodi tenggelam di vaginanya.

“Ayo bu.. dorong lagi ke atas agar terlepas,” Partodi cemas sebab sekarang penisnya telah mulai menyetubuhi Kristin.

“Iya bang.. hmmmpphh aahhss… banghhsss.. emmpphh.. ahssss,” Kristin berupaya menjejak kaki ke lantai supaya tuuhnya tergerak ke atas serta penis itu terlepas dari vaginanya, tetapi kondisi tidak beralih, ikatan lakban mengancing sisi pinggang mereka membuat Kristin tidak mungkin meningkatkan tubuhnya.

“Akhhss.. bangghh.. bagaimana inihh.. ahsss..,” Kristin kembali diam tidak berjalan, separuh penis Partodi yang dirasanya mebuat nafasnya makin berat.

“Oke.. saat ini ibu diam saya agar tidak makin masuk kontol saya. Saya akan berupaya melepas ikatan tangan saya bu.. engghhh,” Partodi mengusung pinggulnya serta pantatnya menjauh dari lantai supaya tangannya dapat berjalan bebas, lantas berupaya melepas dua tangannya dari ikatan lakban. Peluh telah membasahi badan kedua-duanya.

Narasi Panas Pilihan | Partodi lakukan itu seringkali. Pinggul serta pantatnya yang terangkat menjauh dari lantai membuat akses penisnya masuk lebih dalam ke vagina Kristin. Kristin telah pecah konsentrasi, sekarang pikirannya cuma rasakan kesenangan separuh penis Partodi yang keluar masuk perlahan-lahan ke vaginanya ikuti pergerakan pinggul Partodi.

“Akhhss bangghhss ouhh.. akhhh.. ahkkk… enghhhmm,” Kristin makin mendesah, sekarang pinggul Kristin melayani pergerakan Partodi, ia justru berupaya supaya penis Partodi berasa lebih dalam di vaginanya.

Tangan Partodi telah lepas dari ikatan serta sekarang bebas. Tetapi libido yang telah tinggi membuat Partodi bukannya melepas ikatan lakban di pinggang mereka, ia malah membuak kancing-kancing pakaian Kristin serta meremasi payudara Kristin.

“Emmphhh… banghhsss emmphhhhsss,” Kristin makin hilang kendali diperlakukan semacam itu, sekarang bibirnya menyongsong bibir Partodi, mereka berkecupan begitu dalam serta lumayan lama.

Partodi melepaskan susu Kristin dari Bra-nya serta mulai menghisapi payudara Kristin, lantas ke-2 tangannya ke arah bawah serta mengamit bagian CD Kristin supaya penisnya terhubung jauh vagina Kristin. Waktu itu penisnya bisa masuk utuh ke vagina Kristin, tangannya mendesak serta meremasi pantan Kristin membuat Kristin makin mendesis.

“Ouhgg.. ahhgg.. bu.., tangan saya telah terlepas.. kita bebasin dahulu ikatannya atau bagaimana? ouhgg,” Partodi menanyakan sekalian meredam kesenangan digenjot Kristin. Ya pinggul Kristin telah lumayan lama menggenjot Partodi membuat penis Partodi bebas keluar masuk ke vagina Kristin.

“Akhh banghh… sshh.. terserah abanghhh sekaranghhh.. ouhss..,” Kristin sangatlah melayang-layang rasakan kesenangan penis Partodi, ditambah lagi rangsangan Partodi dengan liar di payudaranya membuatnya makin hilang kendali.

“Baik buhh.. akhh.. jika begituhh kita selesaikan duluh.. ouhsss..,” Partodi lalu melepas ikatan tangan Kristin tetapi membiarkan ikatan di pinnggang mereka masih seperti sebelumnya.

“Iyaahh banghh.. terusinnn duluhh… akhhsss.. ouhh…,” tangan Kristin yang telah bebas langsung merangkul leher Partodi serta kedua-duanya kembali sama-sama berpagutan, sesaat pergerakan pinggul Kristin makin liar.

 

Lanjut ke Bagian IV . . .