Cerita Panas Pilihan: Rahasia Seorang Istri Pengusaha Bagian II

Buat Kristin, perampokan di bank itu memunculkan trauma sekejap tapi selesai dengan sensasi sex yang sampai kini tidak sempat ia pikirkan.

Terikat di lorong sempit dengan badan berdempetan bertemu dengan lelaki lainnya membuat Kristin risih bukan kepalang, ditambah lagi si lelaki cuma kenakan kaos dalam serta celana kolor. Tetapi perasaan itu terkubur karena takut yang dirasakannya lihat kawanan rampok bersenjata itu.

Seputar tiga menit berbaring bertemu semacam itu, Kristin lihat lelaki di depannya sukses buka lakban di mulutnya sesudah beruang keras menggerakkan lakban itu dengan lidahnya.

“Tenang bu.. saya Partodi satpam di bank ini. Maaf baju saya barusan dilucuti rampok. Kelihatannya saat ini mereka tengah membuka brangkas serta tidak mungkin kembali pada mari, mari kita berupaya bebaskan ikatan ini bersama dengan ya..,” kata satpam Partodi. Kristin mengangguk saja serta mengharap usaha mereka sukses.

Partodi lalu melepas lakban di mulut Kristin lewat cara menggigit bagian lakban serta menariknya. Kristin sudah sempat terpekik rasakan perih bibirnya tertarik rekatan lakban, tetapi lalu berupaya tenang.

“Terus bagaimana triknya,” bertanya Kristin bertanya langkah mereka melepas ikatan lakban di badan. Kelihatannya susah sebab semasing tangan mereka terikat ke belakang dililit lakban, sesaat lakban yang lain melilit rapat menjadikan satu sisi pinggang, perut mereka berdempetan.

Partodi lantas menuturkan pada Kristin jika karakter karet pada lakban bisa dipakai menjadi peluang mereka lolos dari ikatan. Triknya dengan selalu berjalan supaya lakban jadi molor serta longar elastis.

“Kita masih tetap miliki kaki yang bebas bu. Saya akan membalik tubuh serta ibu mesti berupaya berposisi diatas saya. Sesudah itu kaki ibu dapat menjejak lantai menggerakkan mengarah atas badan saya… mungkin akan sukses,” kata Partodi. Ia selekasnya merubah tempat mereka dari yang awal mulanya berbaring miring bertemu, jadi sama-sama tindih, Kristin ada diatas. Ini dikerjakan Partodi supaya Kristis tidak terasa berat bila Partodi yang ada diatas, karena berat Partodi yang tinggi besar pasti akan menyesah Kristin jika terhimpit.

Tempat Kristin telah diatas badan Partodi. Ia menuruti perintah Partodi serta mulai menggerakan badannya mengarah atas badan Partodi dengan menjejakkan kaki di lantai. Tetapi rok span yang dikenakannya menghambat usaha Kristin menjejakkan kaki dengan optimal mekantai, karena ia mesti lebih mengangkangkan kakinya supaya bisa melalui kaki Partodi dibawah kakinya.

Kristin selalu berusaha serta pada akhirnya ia dapat mengangkangkan kaki lebih lebar, karena gesekan badan mereka, rok Kristin naik sampai bongkahan pantatnya tampak. Tetapi tidak apakah, fikir Kristin, untuk upayanya menjejak kaki ke lantai. Lagi juga Partodi tidak mungkin lihat pantatnya sebab ia ada dibawah Kristin.

“Terus goyang bu.. telah mulai longgar ikatannya,” Partodi berbisik pada Kristin. Tidak tahu kenapa beberapa kata “goyang” yang dibisikan Partodi membuat Kristin risih. Ia baru sadar gerakannya berupaya melepas ikatan berkesan jadi pergerakan yang erotis.

Ia juga baru sadar jika semenjak barusan payudara 36Dnya selalu menggerus dada Partodi, serta pergerakan untuk pergerakan yang memunculkan gesekan di badan kedua-duanya mulai memengaruhi libido Kristin.

“Astaga.., bang Partodi. Apakah ini..? kok berasa keras.. Tolong bang, abang tidak bisa terangsang.. ini dalam perampokan..,” Kristin berbisik balik ke Partodi waktu rasakan suatu benda mengeras hangat berasa dibawah pusar Kristin. Penis Partodi rupanya ereksi sesudah beberapa lama rasakan gesekan badan Kristin.

“Oh.. ehh.. maaf bu.. saya telah berupaya untuk meremehkan rasa-rasanya tetapi gesekan-gesekan itu menaklukkan pikiran saya bu. Maaf bu.. tetapi saya fikir ini alami buat lelaki, yang penting saat ini kita mesti selalu berupaya melepas ikatan ini bu.. sebelum perampok itu kembali pada mari,” Partodi agak grogi serta malu mengerti Kristin tahu penisnya mulai bangun.

“Ya telah.. tidak apa-apa, asal bang Partodi janganlah beberapa macam ya..,” kata Kristin. Ia sadar tidak dapat mempersalahkan Partodi. Serta lagi benar apakah Partodi jika itu begitu alami serta Kristin juga rasakan hal sama, ada kesenangan menjalari tubuhnya setiap saat pergerakan bergesek ia kerjakan.

Pikirnya, perampokan bank yang mengakibatkan mereka berdua ada dalam tempat terikat semacam itu, serta mereka mesti bersama dengan kompak melepas ikatan itu.

Kristin kembali memusatkan pikirannya pada usaha melepas lakban. Ia kembali menggerakan tubuhnya menggesek badan Partodi dari atas ke bawah serta demikian sebaliknya dari bawah ke atas, supaya ikatan lakban melonggar. Usahanya cukuplah sukses, sekarang jarak gesekan bisa lebih jauh mengisyaratkan lakban mulai longgar elastis.

Sisi perut Kristin bisa mencapai perut Partodi sisi atas, Kristin berupaya selalu menjejak lantai supaya tubuhnya tergerak naik lebih jauh.

“Ehmm bu.. coba lagi ke bawah.. selalu dorong lagi ke atas.. telah mulai longgar lakbannya..,” nada Partodi makin parau. Badan Kristin yang tergerak ke atas membuat penis Partodi kehilangan sentuhan, karena selangkangan Kristin sekarang telah di atas melalui ujung penisnya.

Kristin sepakat dengan Partodi, mungkin pergerakan mesti kembali pada bawah lantas kembali ke atas hingga ikatan lakban semakin molor elastis.

Tetapi pergerakan ke bawah yang dikerjakan Kristin malah membuat kondisi mereka berdua beralih. Pikiran semasing milau terpecah pada kesenangan yang mulai dirasa atau usaha melepas lakban.

“Enghhh..,” Kristin melenguh kecil. Ia rasakan ujung penis Partodi menyentuh CD yang dipakainya. Panis Partodi yang sangatlah tegang terdoring keluar dari balik celana kolornya, karena gesekan membuat kolornya turun. Sekarang, tiap-tiap pergerakan Krsitin membuat koneksi ujung penis Partodi semakin berasa mendorong-dorong CD Kristin. Perasaan nikmat kekenyalan itu berasa makin seringkali di bibir vagina Kristin yang terhambat CD.

Kristin selalu berusaha memecah pikirannya supaya masih konssntrasi beregerak untuk melepas ikatan lakban, tetapi makin berjalan serta makin gesekan berlangsung membuah gairah seksualnya ikut naik. Semakin lama ia rasakan Cdnya membasah oleh cairan vaginannya sendiri. Ditambah lagi, dari bawah Partodi juga selalu berjalan berupaya melepas ikatan lakban ditanganya yang terhimpit ke belakang. Perihal ini membuat erotisme sendiri dirasa Kristin.

 

Lanjut ke Bagian III